5 Cara HR Mendeteksi Kebohongan Para Pelamar Kerja

Kebohongan yang dilakukan oleh para pelamar kerja saat sekarang ini, memang tidak bisa dipungkiri lagi. Para pelamar kerja sudah tidak takut lagi untuk berbohong perihal data yang diberikan kepada HR. Mulai dari pengalaman bekerja di perusahaan sebelumnya, durasi berapa lama mereka bekerja, alasan mengapa mereka keluar dari pekerjaan sebelumnya, hingga jumlah gaji yang mereka dapatkan sebelumnya. Hal-hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi pelamar kerja, karena kebohongan-kebohongan tersebut akan bisa dideteksi oleh HR secara mudah dengan 5 cara berikut ini:

1. Mengecek Informasi Standar

Informasi-informasi standar seperti lokasi tempat tinggal, pengalaman kerja dan pendidikan sebelumnya, akan dicek oleh HR. HR dapat mengecek berdasarkan data yang diberikan oleh pelamar kerja. Salah satunya adalah nomor telepon referensi dari tempat kerja sebelumnya, HR akan mengecek apakah benar si pelamar kerja pernah bekerja di kantor sebelumnya dan menanyakan perihal kinerja dari si pelamar kerja, dan yang tak kalah penting perihal apakah si pelamar kerja bisa beradaptasi di linkungan kantor sebelumnya atau malah sulit untuk beradaptasi dan bersosialisasi.

2. Mengecek Rentang Waktu

Rentang waktu dalam pendidikan dan pengalaman bekerja di perusahaan sebelumnya menjadi faktor yang penting bagi HR untuk melihat apakah si pelamar kerja jujur atau berbohong. Salah satu contohnya, jika pelamar kerja menuliskan rentang waktu di CV bahwa dia bekerja selama 1 tahun di perusahaan sebelumnya, tetapi tidak bisa menjelaskan rincian apa saja yang dia kerjakan, HR bisa meragukan keaslian data yang diberikan. Kesalahan kecil yang sering terjadi dalam penulisan CV adalah ketidakselarasan rentang waktu antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, sehingga membingungkan HR apakah benar periode kerja yang ditulis oleh si pelamar kerja, ataukah hanya kebohongan belaka. Dengan rentang waktu yang ditulis dalam CV, HR juga bisa mengecek apakah fasilitas dan jumlah gaji yang didapatkan si pelamar kerja benar valid atau hanya membual.

Baca Juga:   Komponen dalam Slip Gaji yang Perlu Diketahui

3. Mengecek Media Sosial

Media sosial di era digital, sangat berperan bagi si pelamar kerja. Beberapa perusahaan terutama start-up akan melihat akun media sosial dari pelamar kerja. Media sosial menentukan karakter dari calon karyawan apakah mereka seseorang yang sering mengunggah hal-hal yang tidak penting atau setiap unggahannya bermakna positif, apakah si pelamar kerja merupakan orang yang narsis atau biasa saja. Akun media sosial LinkedIn juga akan sangat membantu pengecekan kesamaan informasi dalam CV. Jika ada informasi yang tidak sama antara CV dengan LinkedIn, maka ada kemungkinan pelamar kerja berbohong atau bisa juga pelamar kerja bukan tipe orang yang suka meng-update data diri di akun media sosialnya. Hal-hal tersebut akan menjadi pertimbangan HR dalam menentukan pelamar kerja mana yang akan lolos ke tahap selanjutnya atau gagal.

4. Mengadakan Tes

HR dapat mengadakan tes kemampuan untuk si pelamar kerja. Jika pelamar kerja bisa mendapatkan nilai yang baik dari tes tersebut, maka dia tidak berbohong perihal pengalaman kerjanya, tetapi jika hasilnya buruk, maka si pelamar kerja kemungkinan besar berbohong, karena tes kemampuan tersebut sudah disesuaikan dengan kemampuan si pelamar kerja untuk posisi yang dilamar. Salah satu contohnya, jika posisi yang dilamar adalah Desain Grafis, maka HR bisa meminta si pelamar kerja untuk membuat desain sederhana yang bisa diajukan dan akan dinilai langsung apakah desain tersebut layak atau tidak dalam menentukan lolos tidaknya si pelamar kerja dalam tahap lamaran.

5. Penjelasan dan Intuisi

Dari sekian banyak informasi yang diberikan kepada HR, pasti ada saja kesalahan data. Setelah semua yang di atas dilakukan, HR bisa meminta penjelasan dari si pelamar kerja jika ditemukan kejanggalan, apakah si pelamar akan menjelaskannya lebih jelas, atau malah menghindari hal tersebut. Setelah mendengarkan penjelasan dari si pelamar kerja, maka hal terakhir yang bisa diandalkan HR adalah intuisi. HR juga harus mengandalkan intuisi dan pengalaman selama menjadi HR, dan menentukan apakah si pelamar kerja jujur atau berbohong, serta penentuan apakah HR akan meloloskan atau menggagalkan si pelamar kerja dalam tahap lamaran.

Baca Juga:   Upaya Pengendalian dan Pencegahan COVID-19 di Kantor dengan Teknologi
Scroll to Top