TIPS MEMANFAATKAN POLA KOMUNIKASI GRAPEVINE DI KANTOR

Dalam setiap organisasi seperti dalam perusahaan biasanya pasti terbentuk pola komunikasi. Pola komunikasi dalam organisasi terbentuk dari kebiasaan setiap anggota organisasi berkomunikasi satu sama lain. Pola komunikasi biasanya juga berfungsi mengefektifkan alur komunikasi yang dibutuhkan. Pola komunikasi di perusahaan biasanya dibagi menjadi 2 pola yaitu formal dan informal.

Salah satu pola komunikasi informal yang ada dalam organisasi adalah Grapevine atau pola komunikas buah anggur. Istilah pola komukasi ini diambil berdasarkan kemiripan pola komunikasi ini dengan bentuk sebuah anggur yang bercabang-cabang dan tidak beraturan.

Pola komunikasi dapat dikatakan termasuk pola komunikasi grapevine jika memiliki 3 karakteristik berikut:

  1. Komunikasi tidak dikendalikan oleh manajemen
  2. Biasanya diterima oleh para karyawan sebagai hal yang lebih dipercaya dibandingkan dengan hal-hal yang dikeluarkan oleh perusahaan
  3. Biasanya digunakan untuk mengakomodir kepentingan sekelompok

Banyak hal yang mendorong tumbuh pesatnya pola ini, salah satunya adalah ketidak jelasan informasi yang diberikan oleh atasan yang mengakibatkan para bawahan mengintepretasikan informasi berdasarkan persepsi masing-masing. Jika pola komunikasi ini tidak dikendalikan dengan baik oleh manajemen dapat mengakibatkan ketidakjelasan informas yang dapat merugikan perusahaan. Dampak negatif yang ditimbulkan dari pola komunikasi grapevine ini adalah turunnya motivasi kerja setiap karyawan.

Lalu bagaimana cara mengendalikan pola komunikasi grapevine agar dapat berjalan dengan efektif?

     1. Memastikan semua sumber informasi

Manajemen khususnya HRD yang biasanya menjadi garda terdepan memberikan informasi mengenai perusahaan kepada karyawan dapat memastikan penyebaran informasi dengan baik kepada seluruh anggota dan divisi pada perusahaan. HRD dapat membuat email sekala berkala mengenai informasi terkini atau menggunakan papan pengumuman di kantin atau tempat strategis lainnya sehingga karyawan dapat dengan mudah mengakses informasi.

Baca Juga:   PENTINGNYA PERENCANAAN STRATEGIS BAGI PERUSAHAAN ANDA

     2. Menggunakan informan pihak karyawan sebagai penunjang informasi formal

Biasanya dalam sebuah kelompok karyawan terdapat 1 orang yang dianggap sebagai sumber informasi bagi koleganya. Manajemen dapat ‘memanfaatkan’ mereka sebagai narasumber terkini.

     3. Mengidentifikasi karyawan

Manajemen atau HRD dapat melakukan identifikasi karyawan yang biasanya menjadi “biang rumor” dan memastikan memberikan informasi yang benar agar para kelompok tersebut tidak memberikan informasi yang blunder pada anggota karyawan lain.

Scroll to Top