Tangerang, Indonesia — September 2026 — DataOn menutup partisipasinya dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 dengan menyoroti babak berikutnya dalam transformasi digital HR: bagaimana organisasi dapat melangkah dari sekadar mendigitalisasi proses menuju pemanfaatan data tenaga kerja dan artificial intelligence (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
Diselenggarakan pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, IHCBS 2026 mempertemukan para pemimpin bisnis dan HR, perwakilan pemerintah, akademisi, serta penyedia teknologi. Mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity,” forum ini membahas bagaimana perkembangan AI dan digitalisasi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapabilitas manusia dan produktivitas yang terukur, dengan tetap menempatkan manusia sebagai bagian utama dalam transformasi.
Diskusi selama dua hari penyelenggaraan mengarah pada satu tantangan yang sama: adopsi teknologi saja belum cukup untuk menghasilkan transformasi yang berarti. Organisasi juga perlu menghubungkan AI dengan data yang dapat diandalkan, kapabilitas manusia, tata kelola, serta tujuan bisnis yang jelas.
Bagi DataOn, kondisi tersebut mencerminkan perubahan penting dalam peran teknologi Human Capital Management (HCM). Sistem HR digital telah membantu organisasi menggantikan proses berbasis kertas, spreadsheet, dan sistem yang terpisah dengan informasi tenaga kerja yang lebih terstruktur; peluang berikutnya adalah membuat informasi tersebut berguna ketika sebuah keputusan perlu diambil.
Dari System of Record Menuju System of Decision
Perubahan tersebut menjadi fokus sesi Gordon Enns, Founder dan CEO DataOn, yang bertajuk “Building an AI-Powered Decision Engine: Transforming Employee Data into Predictive Insights.”
Dalam sesinya, Gordon membahas bagaimana histori tenaga kerja yang telah tersimpan di dalam sistem HCM dapat menjadi fondasi untuk membangun decision support yang lebih maju. Data mengenai pergerakan karyawan, transaksi payroll, kehadiran, struktur organisasi, kinerja, rekrutmen, hingga pembelajaran dapat memberikan konteks yang lebih utuh ketika saling terhubung secara konsisten, bukan dianalisis secara terpisah.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi organisasi untuk mengembangkan teknologi HR dari sekadar system of record menjadi system of decision. Informasi tenaga kerja tidak lagi hanya digunakan untuk mencatat apa yang telah terjadi, tetapi juga dapat membantu pemimpin memahami mengapa suatu kondisi berubah, memperkirakan apa yang mungkin terjadi selanjutnya, serta menentukan area yang membutuhkan perhatian atau tindakan.
Namun, Gordon menekankan bahwa kapabilitas AI yang semakin maju tetap membutuhkan fondasi data yang dapat diandalkan.
“Kita membutuhkan data dan teknologi untuk mencapai hasil, dan urutannya harus seperti itu,” ujar Gordon Enns. “Prediksi yang dibangun di atas reporting yang tidak dapat diandalkan hanya akan menghasilkan kesimpulan yang terlihat meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat.”
Prinsip tersebut menjadi semakin relevan ketika organisasi mulai menerapkan kemampuan prediktif dalam pengelolaan tenaga kerja. Model untuk menilai risiko resign, misalnya, dapat membutuhkan konteks dari masa kerja, pola lembur, pergantian atasan, aplikasi internal, hingga riwayat perubahan kompensasi atau posisi; tanpa histori tenaga kerja yang saling terhubung, model yang canggih sekalipun dapat menghasilkan gambaran yang tidak lengkap.
Membangun Decision Support secara Bertahap
Dalam sesinya di IHCBS, Gordon menjelaskan lima tingkat decision support yang menggambarkan bagaimana organisasi dapat mengembangkan kemampuan analitik dan AI secara bertahap, yaitu reporting, diagnostic, predictive, prescriptive, dan agentic.
Tahap pertama dimulai dengan reporting yang dapat memberikan informasi akurat mengenai apa yang telah terjadi. Kemampuan diagnostic kemudian membantu organisasi memahami mengapa suatu hasil berubah, sedangkan predictive digunakan untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi dan prescriptive membantu memberikan rekomendasi tindakan berdasarkan informasi serta batasan yang tersedia.
Pada tingkat agentic, AI dapat mengambil informasi atau menjalankan tindakan tertentu yang telah diizinkan di berbagai sistem dengan tetap mengikuti hak akses, proses persetujuan, dan audit trail yang telah ditetapkan. Artinya, setiap tingkat decision support bergantung pada definisi data, tata kelola, dan kontrol yang dibangun pada tahap sebelumnya.
Kerangka tersebut juga membantu membedakan generative AI dengan kemampuan analitik lain yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan tenaga kerja. Language model dapat mempermudah pengguna mengakses dan memahami temuan, sedangkan metode seperti classification, forecasting, dan anomaly detection dapat menghasilkan analisis yang menjadi dasar dari jawaban tersebut.
Tujuannya bukan sekadar menambahkan antarmuka AI ke dalam platform HR yang sudah ada. AI menjadi lebih bernilai ketika dapat menghubungkan data tenaga kerja yang dapat diandalkan dengan metode analitik, konteks organisasi, hak akses yang sesuai, serta pengawasan manusia.

SunFish HR Membawa Pembahasan IHCBS ke dalam Praktik
Selain melalui sesi Gordon, DataOn melanjutkan diskusi bersama para peserta IHCBS di Booth EXH 23, tempat pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan tim sekaligus mencoba SunFish HR. Aktivitas di booth memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengeksplorasi berbagai fitur SunFish HR dan pengalaman melalui aplikasi mobile, sehingga pembahasan mengenai digitalisasi dan AI dapat dilihat dalam konteks workflow HR sehari-hari.
Interaksi tersebut mencerminkan pendekatan DataOn dalam mengembangkan teknologi HR yang semakin cerdas. Alih-alih menempatkan AI sebagai lapisan terpisah di atas proses yang sudah berjalan, SunFish HR menghubungkan informasi tenaga kerja dan workflow HR digital dengan kapabilitas yang membantu menyediakan informasi relevan ketika dibutuhkan oleh karyawan, manajer, maupun tim HR.
Arah tersebut juga sejalan dengan diskusi yang berkembang sepanjang IHCBS 2026. Organisasi dapat memulai transformasi dengan mengidentifikasi masalah bisnis yang relevan, merancang ulang workflow terkait, melibatkan manusia sejak awal, kemudian mengukur apakah teknologi benar-benar menghasilkan perbaikan yang nyata.
Babak Berikutnya dalam Digitalisasi HR
Diskusi dalam IHCBS 2026 menunjukkan bahwa babak berikutnya dalam digitalisasi HR tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak fitur AI yang digunakan organisasi. Peluang yang lebih besar terletak pada kemampuan teknologi tersebut dalam membantu organisasi memahami perubahan, memperkirakan apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dan mengambil keputusan yang lebih baik dengan tetap menjaga transparansi, otorisasi yang tepat, serta akuntabilitas manusia.
Bagi DataOn, tujuannya bukan menggantikan pertimbangan manusia dengan otomatisasi. Teknologi perlu memberikan bukti dan informasi yang lebih relevan untuk mendukung pertimbangan tersebut pada saat sebuah keputusan masih dapat memengaruhi hasil.
Pada tahap awal, teknologi HCM membantu organisasi membangun proses dan catatan tenaga kerja yang lebih dapat diandalkan. Kontribusi berikutnya adalah membuat informasi tersebut lebih berguna ketika manajemen perlu menentukan tindakan yang harus dilakukan.
Melalui SunFish HR, DataOn akan terus mengembangkan kapabilitas HR yang menghubungkan informasi tenaga kerja dengan analitik, AI, tata kelola, dan pertimbangan manusia untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Tentang DataOn
DataOn (PT Indodev Niaga Internet) merupakan perusahaan di balik SunFish HR, Human Resource Information System untuk kebutuhan enterprise yang mendukung organisasi dari berbagai industri dan lingkungan operasional. Melalui SunFish HR, DataOn mendukung pengelolaan tenaga kerja dalam berbagai area, termasuk Core HR, payroll, time and attendance, rekrutmen, kinerja, talent management, workforce analytics, mobile HR, serta kapabilitas HR berbasis teknologi cerdas. SunFish HR dirancang untuk menghubungkan proses dan informasi tenaga kerja guna mendukung operasional yang lebih efisien serta pengambilan keputusan terkait SDM yang lebih tepat.
Kontak Media
Marketing Communication DataOn
hello@dataon.com
