9 mins read

Backup dan Disaster Recovery HRIS: Apa yang Perlu Ditanyakan HR Sebelum Terjadi Gangguan Sistem

Disaster recovery HRIS dan backup untuk memulihkan data karyawan setelah gangguan sistem

Disaster recovery HRIS menjadi bagian penting dari kesiapan perusahaan ketika proses HR bergantung pada sistem untuk mengelola data karyawan, kehadiran, payroll, hingga transaksi sehari-hari. Gangguan sistem tidak hanya membuat aplikasi sulit diakses, tetapi dapat menghentikan proses yang memiliki tenggat dan berdampak langsung pada tenaga kerja.

Namun, memiliki backup saja belum menjawab pertanyaan terpenting: seberapa cepat HRIS dapat kembali digunakan dan seberapa banyak data yang berpotensi hilang? HR tidak harus menjadi ahli infrastruktur untuk memahami kedua pertanyaan tersebut karena dampaknya berhubungan langsung dengan keberlangsungan operasional HR.

Apa Itu Disaster Recovery HRIS?

Disaster recovery merupakan rangkaian strategi, teknologi, dan prosedur untuk memulihkan sistem serta data setelah terjadi gangguan. Dalam konteks HRIS, recovery bertujuan mengembalikan fungsi teknologi yang diperlukan agar aktivitas HR dapat dilanjutkan.

Dengan demikian, disaster recovery HRIS tidak hanya berbicara tentang memiliki salinan employee database. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana aplikasi, infrastruktur, konfigurasi, dan komponen lain yang dibutuhkan dapat dipulihkan hingga sistem kembali beroperasi.

Gangguan HRIS Tidak Selalu Berasal dari Bencana Besar

Istilah disaster dapat menimbulkan kesan bahwa recovery hanya diperlukan ketika terjadi bencana alam atau kerusakan data center. Pada praktiknya, disruption juga dapat berasal dari hardware failure, software error, kesalahan konfigurasi, gangguan jaringan, human error, hingga insiden keamanan.

Karena penyebabnya beragam, perusahaan perlu mempersiapkan recovery plan berdasarkan dampak terhadap layanan, bukan hanya berdasarkan satu skenario gangguan. Fokus utamanya adalah memastikan fungsi kritis dapat dikembalikan ketika lingkungan utama tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Availability Menjadi Bagian dari Keamanan Data

Keamanan informasi tidak hanya berkaitan dengan mencegah pihak yang tidak berwenang melihat data. Availability juga penting karena informasi perlu tersedia bagi pengguna yang berhak ketika dibutuhkan.

Prinsip tersebut dibahas lebih luas dalam artikel mengenai  ⁠keamanan data HR, yang menempatkan confidentiality, integrity, dan availability sebagai tiga aspek penting dalam perlindungan informasi. Disaster recovery terutama membantu perusahaan menjaga aspek availability ketika terjadi gangguan.

Baca Juga: Keamanan Data HRIS: Panduan Pimpinan HR Mendapatkan Jawaban yang Lebih Jelas

Apa Perbedaan Backup dan Disaster Recovery?

Backup dan disaster recovery sering disebut bersamaan karena keduanya membantu perusahaan menghadapi kehilangan data atau gangguan sistem. Namun, fungsi keduanya berbeda dan memiliki backup tidak otomatis berarti perusahaan sudah mempunyai recovery plan yang memadai.

Backup berfokus pada salinan data, sedangkan disaster recovery HRIS memiliki cakupan lebih luas mengenai bagaimana layanan dapat dipulihkan. Perusahaan membutuhkan keduanya karena data yang tersedia tetapi tidak dapat dikembalikan ke sistem tetap dapat menghambat operasi.

Backup Membuat Salinan Data

Backup merupakan proses membuat salinan informasi yang dapat digunakan apabila data utama rusak, hilang, atau perlu dikembalikan ke kondisi sebelumnya. Salinan tersebut dapat disimpan pada media, sistem, atau lokasi berbeda sesuai arsitektur perusahaan.

Dalam HRIS, backup dapat mencakup employee database dan informasi lain yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem. Pengamanan terhadap data yang sedang disimpan juga menjadi bagian dari perlindungan data at rest.

Baca Juga: Mengapa Data HR Berbeda: Tingkat Keamanan yang Sesuai dengan Risikonya

Disaster Recovery Mengembalikan Operasional Sistem

Recovery mencakup langkah untuk mengembalikan aplikasi, database, konfigurasi, konektivitas, dan komponen lain yang diperlukan. Tujuannya bukan hanya menemukan salinan informasi, tetapi membuat layanan dapat digunakan kembali.

Perbedaan ini penting bagi HR karena memiliki file backup tidak serta-merta berarti payroll atau employee self-service dapat segera berjalan. Sistem tetap membutuhkan proses pemulihan sebelum aktivitas operasional kembali normal.

Disaster recovery HRIS untuk mendukung keberlangsungan operasional HR saat terjadi downtime

Mengapa Disaster Recovery Penting bagi Operasional HR?

Ketergantungan pada HRIS meningkat ketika semakin banyak proses dikelola secara terintegrasi. Satu gangguan dapat memengaruhi beberapa aktivitas sekaligus apabila attendance, payroll, employee database, workflow, dan employee self-service bergantung pada platform yang sama.

Karena itu, pembahasan disaster recovery HRIS sebaiknya tidak hanya berada di antara IT dan vendor. HR perlu menentukan proses mana yang paling sensitif terhadap downtime dan konsekuensi bisnis jika layanan tersebut tidak tersedia.

Payroll Memiliki Tenggat Waktu yang Ketat

Payroll merupakan salah satu proses yang memiliki toleransi gangguan relatif rendah karena penggajian berjalan berdasarkan periode dan jadwal tertentu. Apabila HRIS tidak dapat digunakan menjelang payroll processing, tim dapat kehilangan akses terhadap informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan perhitungan.

Dampaknya dapat meluas dari pekerjaan administratif tambahan hingga keterlambatan proses pembayaran. Karena itu, tingkat prioritas recovery perlu mempertimbangkan kalender dan critical business process, bukan hanya ukuran database.

Baca Juga: Cara Memilih Payroll Service Indonesia Terbaik untuk Bisnis

Employee Data Dibutuhkan untuk Berbagai Proses

Employee master data dapat menjadi sumber informasi bagi banyak fungsi lain, termasuk administrasi, payroll, attendance, workflow, maupun reporting. Ketika sumber tersebut tidak tersedia, proses yang bergantung padanya dapat ikut terhambat.

Kondisi ini menunjukkan mengapa availability perlu menjadi bagian dari strategi perlindungan data. Perusahaan tidak cukup memastikan informasi aman dari akses yang tidak sah, tetapi juga perlu memastikan informasi dapat dikembalikan ketika sistem mengalami disruption.

Employee dan Manager Self-Service Dapat Terganggu

HRIS modern juga digunakan langsung oleh karyawan dan manajer untuk mengajukan maupun menyetujui transaksi. Downtime dapat menghentikan pengajuan cuti, approval, akses informasi pribadi, atau aktivitas lain yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri.

Semakin luas penggunaan employee dan manager self-service, semakin besar jumlah pengguna yang terdampak ketika sistem tidak tersedia. Recovery plan perlu mempertimbangkan bukan hanya kebutuhan tim HR, tetapi juga layanan yang digunakan tenaga kerja secara lebih luas.

Apa Itu RTO dan RPO dalam Disaster Recovery?

Dua istilah yang sering muncul dalam pembahasan recovery adalah Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO). Keduanya membantu perusahaan menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi target pemulihan yang dapat dibicarakan bersama IT atau vendor.

Dalam disaster recovery HRIS, RTO dan RPO menjawab dua pertanyaan berbeda: berapa lama sistem dapat tidak tersedia dan berapa banyak data terbaru yang masih dapat ditoleransi jika harus dipulihkan?

RTO Menentukan Target Waktu Pemulihan

Recovery Time Objective adalah target waktu yang ditetapkan untuk mengembalikan layanan setelah terjadi gangguan. Semakin rendah RTO, semakin cepat sistem diharapkan dapat kembali digunakan.

Contohnya, proses payroll menjelang tanggal pembayaran mungkin membutuhkan target recovery lebih ketat dibanding fungsi yang tidak memiliki tenggat waktu serupa. Perusahaan perlu menentukan prioritas berdasarkan dampak operasional, bukan menetapkan target yang sama untuk seluruh layanan.

RPO Menentukan Toleransi Kehilangan Data

Recovery Point Objective berkaitan dengan titik data yang perlu dapat dipulihkan setelah gangguan. Secara sederhana, RPO membantu menjawab seberapa jauh perusahaan dapat kembali ke versi data sebelumnya tanpa menciptakan dampak yang tidak dapat diterima.

Jika backup dilakukan pada interval tertentu, perubahan setelah backup terakhir dapat menjadi bagian dari risiko kehilangan informasi. Karena itu, kebutuhan RPO ikut memengaruhi strategi backup dan mekanisme recovery yang digunakan.

Disaster recovery HRIS dengan RTO dan RPO sebagai target pemulihan sistem dan data

Mengapa Lokasi Backup dan Recovery Perlu Dipahami?

Menyimpan seluruh komponen recovery pada lingkungan yang sama dengan sistem utama dapat menciptakan single point of failure. Gangguan terhadap satu lokasi berpotensi memengaruhi primary environment sekaligus sumber yang dibutuhkan untuk pemulihan.

Lokasi backup dan recovery environment karena itu menjadi salah satu pertanyaan penting dalam disaster recovery HRIS. Pembahasan ini berkaitan dengan konsep data residency, tetapi memiliki tujuan berbeda: residency berfokus pada lokasi penyimpanan, sedangkan recovery berfokus pada kemampuan memulihkan layanan.

Primary dan Recovery Environment Memiliki Fungsi Berbeda

Primary environment digunakan untuk operasi sehari-hari, sementara recovery environment dipersiapkan untuk mengambil alih atau membantu pemulihan ketika lingkungan utama mengalami gangguan. Desainnya dapat berbeda berdasarkan kebutuhan availability dan arsitektur perusahaan.

Perusahaan perlu memahami di mana masing-masing environment berada dan bagaimana perpindahan dilakukan ketika disruption terjadi. Pertanyaan tersebut melanjutkan pembahasan mengenai data residency karena lokasi primary data, backup, dan disaster recovery dapat berbeda.

Backup Juga Perlu Dilindungi

Backup berisi salinan informasi perusahaan sehingga tetap membutuhkan perlindungan terhadap akses tidak sah, kerusakan, maupun kehilangan. Keberadaannya tidak boleh menjadi jalur alternatif yang justru melemahkan kontrol keamanan.

Encryption, pembatasan akses, monitoring, dan mekanisme perlindungan lain perlu dipertimbangkan berdasarkan arsitektur yang digunakan. Dengan demikian, perusahaan tidak harus memilih antara availability dan confidentiality ketika mempersiapkan recovery.

Baca Juga: Data Residency dalam HRIS: Mengapa Lokasi Penyimpanan Data Karyawan Perlu Dipahami HR

Apa yang Perlu Ada dalam Disaster Recovery Plan HRIS?

Disaster recovery plan membantu perusahaan menentukan tindakan sebelum terjadi disruption, bukan mengambil keputusan ketika layanan sudah berhenti. Dokumen tersebut perlu cukup jelas untuk menunjukkan prioritas, tanggung jawab, dan mekanisme pemulihan.

Beberapa komponen yang perlu dipertimbangkan dalam disaster recovery HRIS meliputi:

  • Pemetaan proses kritis. Tentukan fungsi HR yang memiliki dampak terbesar ketika tidak tersedia, seperti payroll dan employee master data.
  • Target RTO dan RPO. Tetapkan toleransi downtime serta kehilangan data berdasarkan kebutuhan bisnis.
  • Strategi backup. Tentukan cakupan, frekuensi, lokasi penyimpanan, perlindungan, dan periode backup.
  • Recovery environment. Ketahui infrastruktur yang digunakan apabila primary environment mengalami gangguan.
  • Pembagian tanggung jawab. Tetapkan peran HR, IT, vendor, dan fungsi lain selama recovery.
  • Prosedur komunikasi. Tentukan bagaimana pengguna dan stakeholder menerima informasi ketika layanan terganggu.
  • Testing dan review. Uji recovery secara berkala dan perbarui prosedur ketika arsitektur atau kebutuhan bisnis berubah.

Pertanyaan Disaster Recovery yang Perlu Diajukan kepada Vendor HRIS

HR tidak perlu menguasai seluruh detail teknis untuk melakukan evaluasi yang tepat. Pertanyaan yang berorientasi pada dampak bisnis dapat membantu HR memperoleh gambaran apakah vendor memiliki mekanisme recovery yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:

  • Bagaimana sistem melakukan backup? Ketahui frekuensi, cakupan, serta bagaimana backup dilindungi.
  • Di mana backup dan recovery environment berada? Pahami apakah keduanya terpisah dari primary environment.
  • Apa target RTO dan RPO yang tersedia? Bandingkan kemampuan vendor dengan kebutuhan proses kritis perusahaan.
  • Bagaimana proses recovery dijalankan? Ketahui siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana layanan dikembalikan.
  • Apakah disaster recovery pernah diuji? Tanyakan mekanisme serta frekuensi pengujiannya.
  • Apa yang terjadi selama downtime? Pahami bagaimana vendor menangani komunikasi, eskalasi, dan keberlangsungan layanan.

Pertanyaan tersebut sebaiknya dibahas sebelum kontrak atau implementasi, bukan setelah gangguan pertama terjadi. Dengan begitu, perusahaan dapat memahami kemampuan recovery sekaligus mengidentifikasi kesenjangan yang masih perlu dikelola secara internal.

Perkuat Kesiapan HRIS dengan SunFish HR Core

Keandalan HRIS tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola employee data ketika sistem berjalan normal, tetapi juga kesiapan infrastrukturnya menghadapi disruption. SunFish HR Core mendukung pengelolaan data karyawan secara terpusat dengan infrastruktur yang mencakup Tier 3 Data Center dan Warm Disaster Recovery Center sebagai bagian dari fondasi teknologinya.

SunFish HR Core juga mendukung berbagai kebutuhan administrasi HR, employee self-service, manager self-service, workflow, serta pengaturan akses dalam satu platform. Pendekatan terintegrasi membantu perusahaan membangun fondasi HR yang lebih terstruktur sekaligus mempertimbangkan kebutuhan keamanan dan keberlangsungan sistem.

Setiap perusahaan memiliki tingkat ketergantungan terhadap HRIS, target recovery, serta kompleksitas infrastruktur yang berbeda. Hubungi Tim Profesional DataOn untuk mengkonsultasikan kebutuhan disaster recovery HRIS dan mengetahui bagaimana SunFish HR dapat mendukung kebutuhan pengelolaan HR perusahaan.

FAQ

Apa itu disaster recovery?

Disaster recovery adalah strategi dan prosedur untuk memulihkan sistem, aplikasi, infrastruktur, dan data setelah terjadi gangguan. Tujuannya adalah mengembalikan layanan agar aktivitas bisnis dapat dilanjutkan dengan dampak downtime dan kehilangan data yang terkendali.

Apa perbedaan backup dan disaster recovery?

Backup berfokus pada pembuatan salinan data yang dapat digunakan untuk pemulihan, sedangkan disaster recovery mencakup proses yang lebih luas untuk mengembalikan sistem dan layanan hingga dapat beroperasi kembali. Karena itu, memiliki backup merupakan bagian penting dari recovery, tetapi tidak menggantikan disaster recovery plan.

Apa itu RTO dan RPO?

RTO (Recovery Time Objective) adalah target waktu untuk memulihkan layanan setelah gangguan, sedangkan RPO (Recovery Point Objective) menunjukkan seberapa jauh titik data sebelumnya yang masih dapat diterima ketika dilakukan recovery. Keduanya digunakan untuk menentukan kebutuhan dan prioritas pemulihan sistem.

Mengapa disaster recovery penting untuk HRIS?

HRIS dapat mendukung proses kritis seperti payroll, employee database, attendance, workflow, dan self-service sehingga downtime dapat berdampak pada banyak aktivitas sekaligus. Disaster recovery membantu perusahaan mempersiapkan cara mengembalikan layanan dan data ketika sistem utama mengalami gangguan.

Artikel Terkait