6 mins read

10 Penyebab Turnover Karyawan Tinggi Pasca Lebaran dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi turnover karyawan tinggi pasca Lebaran di perusahaan Indonesia

Setiap tahun, periode pasca Lebaran menjadi momen yang ditakuti banyak HR Manager di Indonesia. Bukan tanpa alasan, ini adalah masa ketika gelombang pengunduran diri cenderung meningkat.

Posisi-posisi kosong mendadak bermunculan, dan tim rekrutmen harus bekerja dua kali lebih keras untuk menutup kekosongan yang ada. 

Fenomena ini dikenal luas di kalangan praktisi HR sebagai salah satu pemicu utama turnover karyawan tinggi dalam satu tahun.

Namun, data terbaru justru menunjukkan sesuatu yang menarik: resign pasca Lebaran tidak sespontan yang selama ini diasumsikan. Laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK mengungkapkan bahwa sebagian besar karyawan yang mengundurkan diri sudah berniat sejak jauh hari, dan hanya menunggu momen yang tepat sebelum benar-benar pergi. 

Artinya, akar masalah turnover karyawan sudah tumbuh jauh sebelum hari H pengunduran diri dan tugas HR adalah mendeteksinya lebih awal.

Lantas, apa saja penyebab turnover karyawan tinggi khususnya di momen pasca Lebaran Hari Raya Idul Fitri?

1. THR Cair, Perbandingan Kompensasi Pun Dimulai

Pencairan THR bukan hanya momen penerimaan tunjangan, ini juga menjadi “cermin perbandingan” bagi banyak karyawan. 

Ketika THR diterima, karyawan secara natural mulai mengevaluasi apakah kompensasi mereka setara dengan kontribusi yang diberikan, atau dengan standar pasar yang berlaku.

Workplace Happiness Index juga mencatat bahwa 54% pekerja di Indonesia menyebut gaji yang lebih tinggi sebagai faktor yang akan meningkatkan kebahagiaan mereka. 

Meski kompensasi bukan satu-satunya penentu loyalitas, persepsi ketidakadilan gaji, apalagi yang terkonfirmasi saat membandingkan dengan teman atau rekan industri sering kali menjadi pemicu final keputusan resign.

Laporan PwC’s Future of Work (2024) juga mencatat bahwa 67% karyawan yang resign menyebut kompensasi sebagai salah satu alasan utama. Termasuk di dalamnya adalah kompensasi untuk mengembangkan skill baru karyawan.

HR perlu memastikan struktur gaji sudah di-benchmark secara berkala terhadap standar industri.

2. Tidak Ada Jenjang Karier yang Jelas

Libur Lebaran adalah momen refleksi. Setelah satu tahun bekerja, banyak karyawan bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang sudah saya capai? Ke mana karier saya akan pergi?” Jika jawaban dari lingkungan kerjanya adalah kekosongan, niat untuk mencari peluang di tempat lain pun menguat.

Data dari LinkedIn Workplace Learning Report (2024) menunjukkan bahwa 94% karyawan menyatakan mereka akan bertahan lebih lama di perusahaan yang berinvestasi pada pengembangan karier mereka. 

Sebaliknya, ketiadaan roadmap karier yang transparan adalah salah satu faktor paling konsisten yang mendorong turnover karyawan tinggi, khususnya pada kelompok karyawan usia 25–35 tahun yang sedang berada di fase pertumbuhan karier paling aktif.

3. Kurangnya Recognition dan Apresiasi yang Konsisten

Pasca Lebaran, karyawan baru saja melewati periode kerja penuh tekanan seperti sprint akhir sebelum libur panjang. Di sinilah apresiasi dari atasan menjadi krusial. 

Ketika kontribusi tidak diakui, perasaan tidak dihargai bisa mendorong keputusan yang sudah lama tertunda menjadi kenyataan.

State of the Global Workplace 2025 by Gallup mencatat bahwa hanya 21% karyawan secara global yang engage dengan pekerjaan mereka. Engagement dengan pekerjaan dimulai dari adanya pengakuan atau acknowledgment yang memadai atas pekerjaan mereka. 

Lebih jauh, riset Gallup membuktikan bahwa ketika karyawan highly engaged, tingkat turnover turun hingga 51%. 

HR Manager menganalisis data untuk mendeteksi risiko turnover karyawan tinggi lebih awal

4. Burnout Akibat Beban Kerja Tidak Merata

Sprint kerja menjelang Lebaran ketika semua deadline harus diselesaikan sebelum libur panjang, sering menciptakan akumulasi kelelahan yang tidak tersalurkan. 

Karyawan kembali ke kantor setelah libur bukan dalam kondisi segar, melainkan masih membawa beban burnout dari periode sebelumnya.

DHR Global’s 2025 Report mencatat bahwa 82% pekerja white-collar di Asia dan belahan dunia lainnya mengalami setidaknya satu level burnout. 

Pekerja juga melaporkan beban kerja yang makin berat akibat posisi kosong yang tidak terisi. Sebuah siklus yang memperparah burnout dan mendorong lebih banyak orang untuk pergi.

5. Hubungan Buruk dengan Atasan Langsung

Gallup secara konsisten menemukan bahwa 70% dari variasi tingkat engagement karyawan dalam sebuah tim ditentukan oleh manajer langsung mereka.

Konflik laten yang mungkin tertahan atau tersimpan selama periode sibuk pra-Lebaran sering kali meledak, atau setidaknya semakin jelas ketika karyawan kembali dengan kepala yang lebih jernih. 

Ketika relasi dengan atasan sudah rusak, momen “fresh start” pasca Lebaran justru menjadi titik tolak untuk mencari lingkungan baru. 

Gallup mencatat bahwa engagement manajer global turun dari 30% ke 27% dalam satu tahun. Tren ini akan berdampak langsung pada tim yang mereka pimpin.

6. Budaya Kerja dan Lingkungan Toxic

Workplace Happiness Index juga mengungkap bahwa work-life balance dan purpose at work, bukan sekedar gaji. Keduanya adalah dua pendorong utama kebahagiaan kerja di Indonesia. 

Karyawan yang merasa pekerjaannya memiliki makna terbukti lebih bahagia dan memiliki kecenderungan lebih kecil untuk resign. Bahkan, pekerja yang bahagia memiliki peluang 24% lebih besar untuk memberikan kinerja ekstra.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang toxic , ditandai dengan komunikasi buruk, politik kantor yang tidak sehat, atau manajemen yang tidak manusiawi adalah alasan utama yang mendorong karyawan keluar. 

7. Tawaran Kompetitor yang Lebih Agresif di Q2

Kuartal kedua (April–Juni) adalah salah satu periode rekrutmen paling aktif di berbagai industri. Kompetitor mengetahui bahwa ini adalah momen ketika karyawan paling rentan, setelah THR cair dan setelah momen refleksi Lebaran. 

Akibatnya, banyak perusahaan secara strategis meningkatkan aktivitas talent acquisition mereka tepat di periode ini.

8. Ketidakjelasan Ekspektasi dan Evaluasi Kinerja

Karyawan yang tidak mendapatkan feedback kinerja yang jelas, tidak tahu apakah mereka akan dipromosikan atau tidak, dan tidak memahami arah kontribusi mereka terhadap tujuan perusahaan. 

Pada akhirnya mereka cenderung akan mengalami disorientasi profesional. Pasca Lebaran, disorientasi ini sering berubah menjadi keputusan resign.

Gallup menemukan bahwa hanya 41% karyawan secara global yang sangat setuju bahwa pekerjaan mereka penting bagi misi organisasi. 

Ketidakjelasan ekspektasi dan absennya sistem OKR yang transparan bukan hanya menurunkan kinerja. Ini secara langsung dapat meningkatkan risiko turnover karyawan tinggi di semua level jabatan.

9. Kegagalan Onboarding untuk Karyawan yang Direkrut Q4–Q1

Karyawan yang bergabung di Q4 tahun sebelumnya atau Q1 tahun berjalan memasuki fase kritis dalam 90 hari pertama mereka tepat di sekitar periode Lebaran. 

Jika proses onboarding lemah, tidak ada mentor yang efektif, tidak ada integrasi tim yang baik, tidak ada kejelasan ekspektasi, maka Lebaran pertama mereka sering menjadi Lebaran terakhir di perusahaan itu.

Kehilangan karyawan baru di bulan ke-3 hingga ke-6 adalah salah satu pemborosan SDM paling mahal yang sering tidak disadari perusahaan.

10. Pola Absensi dan Disengagement yang Tidak Terpantau

Sebelum seorang karyawan benar-benar resign, hampir selalu ada sinyal awal yang bisa dideteksi: peningkatan ketidakhadiran, penurunan produktivitas yang konsisten, berkurangnya inisiatif, atau perubahan pola kerja. 

Namun, tanpa sistem pemantauan data yang terpusat, sinyal-sinyal ini sering kali diabaikan atau baru diketahui terlambat, yaitu ketika surat resign sudah ada di meja HR.

Pasca Lebaran, lonjakan absensi sering dianggap sebagai efek perpanjangan libur yang wajar. Padahal, bagi sebagian karyawan, ini adalah manifestasi dari disengagement yang sudah berlangsung lama. 

SunFish AI & Analytics sebagai solusi prediksi dan pencegahan turnover karyawan tinggi

Atasi Turnover Karyawan Tinggi Lebih Cepat dengan SunFish AI & Analytics

Mendeteksi pola turnover karyawan tinggi sebelum gelombang resign benar-benar terjadi kini bukan lagi sekadar idealisme, itu adalah kapabilitas nyata yang dapat dimiliki setiap tim HR profesional.

SunFish AI & Analytics hadir sebagai solusi analitik tenaga kerja berbasis kecerdasan buatan yang membantu tim HR membaca sinyal disengagement lebih awal: mulai dari anomali absensi, penurunan kinerja, hingga pola historis masa kerja karyawan

Dengan fitur Analisis Prediktif yang ditenagai machine learning, SunFish menganalisis data historis seperti demografi, masa kerja, gaji, absensi, dan kinerja untuk memprediksi potensi turnover sebelum terjadi. Ditambah dengan lebih dari 50+ dashboard real-time dan 100+ laporan siap pakai, HR dan eksekutif mendapatkan visibilitas penuh atas kondisi tenaga kerja, kapan pun dibutuhkan.

Fitur unggulan SunFish AI & Analytics untuk mengatasi turnover:

  • Analisis Prediktif — machine learning yang mendeteksi potensi turnover dari data historis karyawan
  • Laporan Eksekutif Berbasis AI — insight terstruktur dengan rekomendasi action plan otomatis
  • Smart Alert — notifikasi real-time saat ada perubahan signifikan pada data karyawan kritis
  • Dashboard Kustom — visualisasi data absensi, kinerja, dan engagement yang dapat disesuaikan
  • Analitik In-App — wawasan langsung di setiap halaman tanpa perlu alat BI tambahan

Lebih dari 2.000 perusahaan terkemuka di Asia Tenggara, telah mempercayakan pengelolaan SDM mereka kepada SunFish HR. Konsultasikan kebutuhan HRIS perusahaan Anda dengan tim profesional DataOn. Diskusikan kendala yang perusahaan Anda hadapi dan bagaimana SunFish bisa menjadi solusi terintegrasi terbaik.

Referensi:

  • Gallup. (2025). Global Data Summary — State of the Global Workplace 2025. https://www.gallup.com/workplace/697904/state-of-the-global-workplace-global-data.aspx 
  • Gallup. (2025). State of the Global Workplace 2025. https://www.gallup.com/workplace/349484/state-of-the-global-workplace.aspx
  • Jobstreet by SEEK. (2025). Workplace Happines Index. https://sg.jobstreet.com/career-advice/article/singapore-workplace-happiness-2026
  • LinkedIn Learning. (2024). Workplace Learning Report. https://learning.linkedin.com/content/dam/me/business/en-us/amp/learning-solutions/images/wlr-2024/LinkedIn-Workplace-Learning-Report-2024
  • DHR Global. (2025). Balancing Engagement & Burnout: What DHR Global’s 2025 Report Reveals. https://www.dhrglobal.com/insights/balancing-engagement-burnout-what-dhr-globals-2024-report-reveals/

Artikel Terkait