Perhitungan THR menjadi salah satu proses penting dalam pengelolaan payroll perusahaan menjelang Hari Raya. Selain berkaitan dengan kewajiban finansial perusahaan, perhitungan yang tepat juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan.
Bagi tim HR, memahami metode perhitungan THR secara akurat membantu menghindari kesalahan administratif yang dapat menimbulkan sanksi kepatuhan terhadap regulasi di Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami rumus perhitungan THR, komponen upah yang digunakan, serta ketentuan masa kerja yang berlaku.
Artikel ini membahas perhitungan THR secara sistematis, mulai dari dasar hukum, komponen upah yang digunakan, hingga contoh perhitungan yang sering ditemui dalam praktik payroll perusahaan.
Cara Menghitung THR Karyawan
Perhitungan THR di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan. Regulasi ini mengatur kewajiban perusahaan untuk memberikan THR kepada pekerja yang telah memiliki masa kerja minimal satu bulan secara terus menerus.
Selain menentukan kewajiban pembayaran, regulasi ini juga menjelaskan metode perhitungan THR berdasarkan masa kerja karyawan. Ketentuan tersebut menjadi acuan utama bagi HR dan tim payroll dalam menentukan besaran THR yang harus dibayarkan
Komponen Upah dalam Perhitungan THR
Dalam praktik payroll perusahaan, perhitungan THR tidak hanya didasarkan pada gaji pokok. Regulasi ketenagakerjaan menetapkan bahwa komponen upah yang digunakan dapat mencakup gaji pokok serta tunjangan tetap.
- Gaji Pokok: Gaji pokok merupakan komponen utama yang selalu digunakan dalam perhitungan THR. Besaran gaji pokok mencerminkan nilai dasar kompensasi yang diterima karyawan setiap bulan.
- Tunjangan Tetap: Tunjangan tetap adalah pembayaran yang diberikan secara rutin setiap bulan dan tidak bergantung pada kehadiran atau performa kerja. Contoh tunjangan tetap antara lain tunjangan jabatan, tunjangan keluarga, atau tunjangan komunikasi yang bersifat tetap.
- Tunjangan Tidak Tetap: Tunjangan tidak tetap biasanya tidak termasuk dalam perhitungan THR. Komponen seperti uang lembur, insentif penjualan, atau bonus kinerja umumnya tidak dihitung sebagai dasar perhitungan THR.

Rumus Perhitungan THR Karyawan
Metode perhitungan THR bergantung pada masa kerja karyawan di perusahaan. Regulasi ketenagakerjaan membedakan perhitungan antara karyawan dengan masa kerja minimal 12 bulan dan karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun.
Perhitungan THR untuk Masa Kerja 12 Bulan atau Lebih
Karyawan yang telah bekerja selama minimal 12 bulan berhak menerima THR sebesar satu bulan upah.
Rumus perhitungan THR:
THR = 1 bulan upah
Upah yang dimaksud dapat berupa gaji pokok atau gaji pokok ditambah tunjangan tetap.
Contoh Perhitungan THR untuk Masa Kerja 12 Bulan
Seorang karyawan memiliki gaji pokok sebesar Rp7.000.000 dan telah bekerja selama 12 bulan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, karyawan tersebut berhak menerima THR sebesar satu bulan upah.
Perhitungan THR:
THR = Rp7.000.000
Perhitungan THR untuk Masa Kerja Kurang dari 12 Bulan
Karyawan dengan masa kerja minimal satu bulan tetapi kurang dari satu tahun menerima THR secara proporsional. Metode ini menggunakan perhitungan prorata berdasarkan lama masa kerja.
Rumus perhitungan THR:
THR = (masa kerja ÷ 12) × 1 bulan upah
Metode ini memastikan bahwa karyawan tetap menerima THR sesuai kontribusi masa kerja yang telah dijalani.
Contoh Perhitungan THR untuk Masa Kerja 6 Bulan
Seorang karyawan memiliki gaji sebesar Rp6.000.000 dan telah bekerja selama 6 bulan. Karena masa kerja kurang dari satu tahun, perhitungan THR dilakukan secara prorata.
Perhitungan THR:
THR = (6 ÷ 12) × Rp6.000.000
THR = Rp3.000.000
Contoh Perhitungan THR untuk Masa Kerja 3 Bulan
Seorang karyawan dengan gaji Rp5.000.000 telah bekerja selama 3 bulan. Perhitungan THR dilakukan menggunakan rumus prorata.
Perhitungan THR:
THR = (3 ÷ 12) × Rp5.000.000
THR = Rp1.250.000

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Perhitungan THR
Dalam praktik payroll perusahaan, perhitungan THR sering kali terlihat sederhana. Namun dalam kenyataannya, banyak perusahaan masih melakukan kesalahan administrasi yang dapat mempengaruhi akurasi pembayaran THR kepada karyawan.
Kesalahan ini biasanya terjadi karena perhitungan dilakukan secara manual atau data payroll tidak terintegrasi dengan baik. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi dalam proses perhitungan THR.
1. Menggunakan Komponen Upah yang Tidak Tepat
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah menggunakan komponen upah yang tidak sesuai dengan ketentuan. Banyak perusahaan memasukkan tunjangan tidak tetap seperti lembur, bonus tahunan, atau insentif sebagai dasar perhitungan THR.
Padahal dalam praktik ketenagakerjaan, dasar perhitungan THR umumnya menggunakan gaji pokok atau gaji pokok ditambah tunjangan tetap. Kesalahan dalam menentukan komponen ini dapat menyebabkan nilai THR menjadi terlalu besar atau justru lebih kecil dari yang seharusnya.
2. Kesalahan Menghitung Masa Kerja Karyawan
Perhitungan THR sangat bergantung pada masa kerja karyawan di perusahaan. Kesalahan dalam menghitung masa kerja dapat berdampak langsung pada besaran THR yang harus dibayarkan.
Misalnya, karyawan yang telah bekerja selama 11 bulan sering kali keliru dihitung sebagai karyawan dengan masa kerja satu tahun penuh. Sebaliknya, karyawan baru dengan masa kerja beberapa bulan kadang tidak dihitung secara prorata sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Tidak Memperbarui Perubahan Gaji Karyawan
Perubahan gaji yang terjadi dalam satu tahun kerja juga dapat mempengaruhi perhitungan THR. Jika data payroll tidak diperbarui dengan benar, HR berisiko menggunakan angka gaji lama sebagai dasar perhitungan.
Akibatnya, nilai THR yang dibayarkan tidak mencerminkan kondisi gaji terbaru karyawan. Hal ini dapat memicu keluhan dari karyawan serta memerlukan proses koreksi administrasi yang memakan waktu.
4. Mengabaikan Status dan Jenis Hubungan Kerja
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memperhitungkan status hubungan kerja karyawan. Dalam praktiknya, perusahaan memiliki berbagai jenis pekerja seperti karyawan tetap, kontrak PKWT, hingga pekerja harian lepas.
Setiap jenis hubungan kerja dapat memiliki pendekatan perhitungan THR yang berbeda. Jika HR tidak memahami perbedaan ini dengan baik, perhitungan THR berpotensi tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Perhitungan Dilakukan Secara Manual
Perhitungan THR yang masih dilakukan menggunakan spreadsheet manual sering meningkatkan risiko kesalahan. Hal ini terutama terjadi di perusahaan dengan jumlah karyawan besar atau struktur gaji yang kompleks.
Kesalahan input data, perubahan gaji yang tidak tercatat, atau kesalahan rumus dapat menyebabkan hasil perhitungan tidak akurat. Oleh karena itu, banyak perusahaan mulai menggunakan sistem payroll terintegrasi untuk mengurangi risiko kesalahan tersebut.
Kelola Perhitungan THR Lebih Akurat dengan SunFish Payroll
Untuk mengurangi risiko kesalahan dalam perhitungan THR dan proses payroll lainnya, perusahaan membutuhkan sistem payroll yang terintegrasi dan terstruktur. SunFish Payroll Enterprise dari DataOn membantu perusahaan mengelola proses payroll secara otomatis, mulai dari pengelolaan komponen upah hingga perhitungan kewajiban pembayaran seperti THR.
Melalui sistem payroll yang terintegrasi, tim HR dapat mengelola data karyawan secara konsisten, memperbarui perubahan gaji secara real-time, serta memastikan proses perhitungan THR dilakukan berdasarkan masa kerja dan komponen upah yang tepat. Automasi ini membantu mengurangi risiko kesalahan manual sekaligus meningkatkan efisiensi administrasi payroll perusahaan.
Selain meningkatkan akurasi perhitungan, SunFish Payroll Enterprise juga dirancang untuk mendukung kebutuhan payroll perusahaan dengan struktur organisasi yang kompleks. Sistem ini memungkinkan perusahaan mengelola berbagai skema penggajian secara lebih fleksibel sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan yang berlaku.
Jika perusahaan Anda ingin memastikan proses payroll berjalan lebih efisien dan akurat, Anda dapat mengkonsultasikan kebutuhan payroll perusahaan dengan tim profesional DataOn. Hubungi tim DataOn untuk mengetahui bagaimana SunFish Payroll Enterprise dapat membantu mengoptimalkan pengelolaan payroll dan perhitungan THR di perusahaan Anda.
FAQ
1. Bagaimana cara perhitungan THR?
Perhitungan THR karyawan di Indonesia mengacu pada Permenaker No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Karyawan dengan masa kerja minimal 12 bulan berhak menerima THR sebesar satu bulan upah.
Sementara itu, karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun menerima THR secara prorata. Rumus perhitungan THR yang umum digunakan adalah: THR = (masa kerja ÷ 12) × 1 bulan upah
2. Berapa THR karyawan yang belum 1 tahun?
Karyawan yang masa kerjanya belum mencapai satu tahun tetap berhak menerima THR. Besarannya dihitung secara proporsional berdasarkan lama masa kerja di perusahaan.
Sebagai contoh, jika seorang karyawan memiliki gaji Rp6.000.000 dan telah bekerja selama 6 bulan, maka perhitungan THR adalah: THR = (6 ÷ 12) × Rp6.000.000 = Rp3.000.000
3. THR 1 kali gaji pokok berapa?
Karyawan dengan masa kerja minimal 12 bulan berhak menerima THR sebesar 1 bulan upah. Upah yang dimaksud biasanya berupa gaji pokok atau gaji pokok ditambah tunjangan tetap yang dibayarkan secara rutin setiap bulan.
Sebagai contoh, jika gaji pokok seorang karyawan adalah Rp7.000.000 per bulan, maka THR yang diterima adalah sebesar Rp7.000.000.
4. Karyawan baru 3 bulan apakah dapat THR?
Karyawan baru yang telah bekerja minimal satu bulan secara terus menerus tetap berhak menerima THR. Namun besaran THR dihitung secara prorata sesuai masa kerja karyawan.
Sebagai contoh, jika seorang karyawan memiliki gaji Rp5.000.000 dan telah bekerja selama 3 bulan, maka perhitungan THR adalah: THR = (3 ÷ 12) × Rp5.000.000 = Rp1.250.000
